Ini adalah hari pertama saya tidak memegang penuh perlombaan 17-an (anak-anak mau pun dewasa).
Secara teknis hari ini cukup banyak yang mengecewakan, terutama bagaimana cara mengumpulkan dan mendaftarkan peserta dewasa (bapak-bapak dan ibu-ibu). Ini memang salah satu yang krusial. Tekanan paling besar saat di lokasi--bagaimana memutuskan membuat setiap warga yang datang dapat terlibat sebagai peserta dengan konsekuensi pembagian sesi lomba yang lebih fleksibel dalam waktu yang sangat terbatas.
Contohnya, dalam satu lomba terdapat 6 alat. Yang berarti jumlah maksimal peserta yang dapat bermain adalah 6 orang setiap sesi. Jika total yang datang adalah 12 orang maka pembagian minimal dalam babak penyisihan adalah 2 sesi (sesi pertama 6 orang dan sesi kedua adalah 6 orang).
Bagaimana kalau yang datang 15 orang? Ini
tricky-nya. Jika sesi 1 sudah terlaksana dengan jumlah 6 orang maka tinggal menyisakan 9 orang. Sembilan orang ini dapat dibagi menjadi 3 sesi (masing-masing sesi 3 orang) atau 2 sesi (satu sesi melibatkan 5 orang dan sesi lainnya melibatkan 4 orang). Ini pun tergantung dengan usia warga yang datang dan apakah mereka mau ikut bermain. Bagaimana mengarahkan satu sesi tersebut menjadi sesi yang kompetitif juga menjadi pertimbangan.
Ribet?
Kecewa?
Memang.
Tapi regenerasi harus berjalan.
Karangtaruna sekaligus panitia 17-an hari ini perlu menyaksikan sendiri efektif dan tidaknya penyelenggaraan lomba tahun ini.
Btw, tulisan ini saya buat sambil mendengarkan album baru TWICE berjudul
This Is For. Ajiiiib!